Tentang Farhat Abbas dan Logika Infotemen

Akhir-akhir ini, infotemen (baca : infotainment) sedang seru-serunya menyorot 3 kasus (yang katanya) sensasional : “Cinta Segitiga Farhat Abbas” , “Bopak VS (mantan) Istrinya” dan “Perselisihan Ustad Guntur Bumi dan mantan pasiennya”. Tiga kasus tersebut selalu disorot infotemen setiap hari : pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Saya tanya, bosankah anda lihat berita tersebut? Kalau saya ditanya, jelas saya bosan. Tapi, itulah infotemen Indonesia : sukanya cari sensasi, biar (lagi-lagi) rating program itu tinggi.

Jujur saya bingung sama para jurnalis infotemen. Mereka ingin diakui secara jurnalistik. Tapi, layakkah? Tidak. Kenapa? Karena mereka sudah melupakan (atau memang sengaja ya?) salah satu bagian penting dalam kaidah jurnalistik, yaitu “Verifikasi Data”. Verifikasi data penting dalam menentukan kebenaran suatu peristiwa : Apakah fakta, rekayasa atau hoax/bohong belaka? Nah, coba perhatikan infotemen di TV, sudahkah mereka menerapkan Verifikasi Data? Sayangnya tidak.. Mereka seringkali mendapatkan informasi yang menyesatkan, salah satunya dari portal berita online ataupun sosial media.

Sekarang, kita bahas tingkat keakuratan portal berita online dan sosial media.

  1. Portal berita online
    Keunggulan sumber berita ini adalah kemudahan akses, dan tingkat kecepatan penyampaian berita yang lebih baik. Tapi, kalau soal keakuratan.. Urusannya lain. Rata-rata meragukan. Ada yang betul, ada yang menyesatkan. Sayangnya, yang menyesatkan inilah yang sering muncul. Menyesatkan, dalam arti berita-berita yang hadir di portal berita online itu sangat mudah mengarahkan opini publik, yang bisa jadi merupakan campur tangan pihak tertentu. Misalnya dalam berita Jokowi jadi Capres, dalam portal berita A memberitakan yang baik-baik, Jokowi tak khianati Jakarta, dsb. Sementara, portal berita B memberitakan yang negatif, seperti elektabilitas Jokowi menurun, Jokowi khianati Jakarta, dan lainnya. Makanya, cermati berita yang muncul. Jangan telan bulat-bulat (utuh).
  2. Sosial media
    Kalau sumber berita yang ini.. Tingkat menyesatkannya cukup tinggi, karena ada saja berita-berita bohong, atau biasa disebut hoax. Entah siapa yang menyebarkannya, tiba-tiba sudah heboh dimana-mana. Seperti kasusnya Roger Danuarta. Dalam twitpic yang dibuat oleh sebuah akun Twitter, terlihat foto Roger Danuarta yang overdosis didalam mobil. Keterangan twitpicnya mengatakan bahwa Roger sudah meninggal dunia, padahal? Masih hidup, dan kini sudah di jeruji besi (alias ditahan di Kepolisian). Nah.. Lagi-lagi verifikasi data penting disini.

Ya, inilah kenyataan. Infotemen kita suka hal-hal berbau sensasi (bukan prestasi), dan terus diulang-ulang tanpa adanya perubahan isi. Paling hanya ada sedikit edit. Maklum, PH infotemen hanya dikuasai oleh berberapa pihak (terkesan monopoli), seperti Creative Indigo, Shandika Widya Cinema, dan lain sebagainya. Sehingga, tayangan yang pertama kali tayang di TV A, bisa tayang di TV B, TV C dan seterusnya.

Sebetulnya, ada infotemen yang berbeda. Mereka tidak menayangkan sensasi, dan lebih banyak mengungkapkan hal-hal yang tak ada di infotemen lain, seperti seluk beluk dibali seorang selebriti. Biasanya, infotemen yang berbeda ini juga ditambah dengan berita hiburan luar negeri. Tapi.. Karena tayang di TV lokal, dan isinya kurang sensasional, ya.. ratingnya jeblok.

Yang jelas, ini adalah infotemen Indonesia, “Mengungkap hal tak penting, menjadi sensasional. Berulang-ulang, dan hanya jadi sampah.. 

Sampai sekarang masih ya? Lebih parah, kayaknya. Kekayaan dan kesempurnaan fisik selebritis malah jadi bahan jualan paling laku. Semua orang berbondong-bondong jadi seleb, tapi..

Portal berita online sekarang sama parahnya. Beritanya bisa jadi lebih nggak penting dari infotemen. Apalagi kalau bersangkutan sama pemilik. 😀

– Jakarta, 22 Juni 2016

Monggo komen disini