Kelana Episode 4 : Soal Anak SMK (katanya) Tak Siap Kerja

Sore itu, saya mengulik-ulik kembali dokumen-dokumen dan tugas-tugas saya selama sekolah. Rasanya seperti baru kemarin saya lulus sekolah terakhir saya, yaitu di tingkat SMK. Padahal, jarak antara saya mengulik dengan saya lulus sudah 1 tahun lewat. Hmm.. 

Apa yang saya buka? Mulai dari laporan PKL yang tak saya kumpulkan, kertas-kertas catatan yang sudah makin berserakan, hingga ijazah SMK dan sertifikat-sertifikat yang saya buka. Saya melihat seperti semacam perubahan hidup saya yang tercatat didalamnya, termasuk juga soal kesyukuran saya mengakhiri masa pendidikan dasar dan menengah dengan hasil UN yang melebihi target saya, ditengah situasi tidak berfaedah karena galau memikirkan (eks) gebetan saya. Hahah. 

Alhamdulilah, setelah saya lulus, tak butuh waktu lama buat saya mendapatkan pekerjaan, begitupun dengan sebagian besar teman-teman seangkatan saya. Namun, bagaimana dengan anak-anak SMK lainnya setelah lulus sekolah? 

Pikiran ini muncul begitu saja ketika Instagram Opini.id membuat video yang terbilang cukup “provokatif” (disini bukan bermakna negatif) beberapa waktu yang lalu. Mereka mengundang seorang praktisi di bidang fashion Indonesia bernama bu Lisa Fitria, dimana ia berbicara banyak soal mengapa banyak anak SMK yang menganggur.  

Kelana Episode 3 : (Lagi-Lagi) Transportasi 1/2 Online

Persiapan demi persiapan dilakukan oleh sepasang suami istri, jelang akan berangkat kerja. Mereka memakai seragam kerja warna biru muda berbatik dengan celana biru dongker. Dengan menggunakan motor, hampir setiap pukul 2-3 pagi, disaat yang lain masih banyak terlelap, mereka berangkat bersama menuju pool. Pool taksi, tepatnya.

Ini adalah pemandangan yang sering saya lihat hampir setiap hari, karena waktu bangun saya bersamaan ketika mereka pamit akan bekerja. Kira-kira, ada yang tahu siapa suami istri ini? Mereka adalah orang tua saya.

Ini adalah pertama kalinya saya mengaku dan bercerita banyak soal transportasi umum dan transportasi setengah online dari kacamata saya sebagai seorang anak supir taksi, tepatnya supir taksi eksisting yang beberapa bulan lalu bermitra dengan salah satu aplikasi transportasi 1/2 online terbesar dan kini bisa dikatakan mereka jadi superpower bersama.

Kelana Episode 2 : Kelakuan Warganet Jaman Now

Seorang perempuan, anak sekolahan, menggunakan jilbab, memakai seragam pramuka, menumpang di motor yang dikendarai temannya, dengan kondisi kedua-duanya tanpa menggunakan helm dan perempuan ini.. merokok.

Semua terekam dalam video yang durasinya hanya 1 menit, yang kemudian viral di Instagram. Video direkam oleh seseorang yang kemungkinan juga naik motor, karena saat merekam ada adegan selap selip diantara mobil saat kemacetan terjadi.

Seketika, banyak komentar kontra terhadap si perempuan muncul. Tudingan dan shaming bermunculan. Mereka merasa bahwa perilaku perempuan ini “nakal”, bahkan pernah “dipakai” lawan jenis. Komentar yang sayangnya juga diungkapkan oleh sesama perempuan.

Entah kenapa, polisi moral seakan muncul begitu banyak disini. Apakah mungkin karena ia perempuan, sehingga tudingan-tudingan tak berarah dan sotoy pun harus keluar juga?

Sementara, laki-laki merokok, yang umumnya sudah dimulai dari masa sekolah (bahkan faktanya kini anak SD juga sudah merokok), dianggap “biasa”, bahkan dianggap gaul dan kekinian, meski tentu ada yang menyayangkan hal tersebut.

Kelana Episode 1 : Transjakarta (katanya) Kini Lebih Baik

​Pagi itu, jelang pukul 5, bus Transjakarta dengan kode awalan BMP, yang berarti dikendalikan salah satu operator bus Bianglala Metropolitan tiba di halte Jembatan Gantung, Cengkareng, Jakarta Barat. Ini adalah bus terakhir di jam “malam”.

Pintu bus ini terkadang agak macet, sehingga petugas on-board alias “kenek” atau sang kondekturnya mesti mendorong pintunya agar terbuka lebar untuk menampung masuknya penumpang yang akan menaiki bus tersebut.

Tidak seperti kebanyakan tampilan bus-bus Transjakarta (kebanyakan masih baru) yang banyak dipertontonkan ke masyarakat dan tentu saja paling banyak digunakan pengguna jenis transportasi umum yang telah hadir sejak 2004 ini, bus BMP dengan merek Hino ini nampak tak ada bedanya dengan Kopaja atau Metromini. Hanya bedanya, diberikan fitur pendingin ruangan, yang kalau padat orang, tak terasa hawanya sama sekali.

Penerangan di bus ini cukup gelap. Ada bunyi pergesekan yang dahsyat ketika menembus jalan bergelombang atau naik turun. Kemudian, pintu yang agak macet. Penanda halte yang akan dituju didalam bus yang tak lagi benar dan kadang tak menyala. Serta tempat duduk yang mungkin secara tampilan terasa jadul sekali.

Namun, rasanya duduk di tempat duduk bus ini, masih nampak lebih enak dibandingkan bus-bus baru Transjakarta seperti Scania yang agak pelit dengan busa atau bus asal Tiongkok, Zhongtong yang kontroversial karena di masa lalu seringkali menyumbang pemberitaan soal bus Transjakarta yang terbakar, yang bahkan tak ada busanya sama sekali dan berkontur agak aneh.