Setelah 4 tahun berselang, inilah persembahan saya.

Saya hadirkan buku "digital" IniKritikGue dan Kotak Imaji, yang bercerita banyak soal televisi dari perspektif saya pribadi dan juga cerita-cerita dibalik IniKritikGue.

SEGERA DI JANUARI 2018

Silahkan unduh atau download dengan klik link dibawah ini.

Download/Unduh
Link Alternatif

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Cerita dibalik buku ini.

Buku ini saya susun di akhir 2016 lalu dengan judul awalnya adalah "Untold Story of IniKritikGue", yang saya harapkan akan mampu memberikan semacam pencerahan dan inspirasi baru, bukan hanya untuk dunia televisi di Indonesia pada umumnya (dari sisi saya sebagai "pengamat" dan masyarakat umum), namun juga untuk anak muda untuk berani berbicara dan berpendapat.

Buku ini rencana awalnya adalah bisa terbit di penerbit "mayor" dan bisa masuk ke toko-toko buku. Apalagi yang saya lihat dan riset sendiri, buku-buku soal broadcasting dan media di toko buku tergolong minim. Kalaupun adapun, juga kebanyakan berurusan dengan praktek dan hal-hal yang tergolong "berat" dipahami masyarakat.

Namun, menanti dalam ketidakpastian selama berbulan-bulan rupanya menghasilkan hasil yang cukup sia-sia. Buku saya naskahnya ditolak dan diminta untuk coba lagi. Ya, memang cukup lumayan mengecewakan. Namun, saya akhirnya memilih maju terus dengan buku ini, sambil tentu saja melakukan revisi-revisi yang diperlukan.

Akhirnya, keputusan dipilih setelahnya. Buku ini saya gratiskan utuh. Niatnya tak lagi soal komersil, namun soal literasi. Ya, setidaknya juga mengujicoba seberapa paham sih masyarakat dengan isu-isu media massa, terutama televisi.

Ide adanya buku ini sebenarnya tersusun dari keinginan sederhana seorang blogger dicampur dengan kegagalan-kegagalan project serupa yang berhenti di tengah jalan oleh saya sendiri. Ya, keinginan dan kegagalan, dua hal yang berbeda sekali kutubnya.

Namun, suatu waktu di 2016, saya mencoba menyeriuskan keinginan ini sehingga memberikan hasil yang lebih baik dan tentu saja keseriusan untuk menggarapnya. Untuk sedikit "kode" menyatakan keseriusan ini, saya mengontak salah seorang broadcaster televisi, yaitu pak Andi Chairil untuk mengisi bagian pendahuluan buku. Ya, ditengah kesibukan beliau saya memintanya.

Mungkin ada yang bertanya kenapa beliau yang saya pilih, bukan mas Wishnutama atau pak Indra Yudhistira, misalnya, yang menurut pembaca lebih dikenal namanya dibandingkan beliau. Saya memilih beliau karena selain lebih mudah dikontak dibandingkan kedua nama tadi, juga karena saya melihat pengalaman beliau dan pemikirannya yang mungkin sevisi dengan saya pribadi.

Jujur, saya sempat berpikir bahwa ini terlalu ambisius. Namun, yang kemudian saya pikirkan selanjutnya bukan soal ambisi atau tidak. Ini yang saya pikirkan adalah soal bagaimana sedikit membantu masyarakat memahami televisi di negeri ini, dengan cara yang lumayan menyentil, sekaligus - ya anggap saja - ini buat sebagai saran-saran secara umum buat industri televisi. Ini yang disebutkan pak Andi dalam pendahuluannya.

Ya, akhirnya saya memahami bahwa buku ini memang tak sempurna. Sebuah keinginan masih saja terlintas di benak. Semoga saja ada terbitan saya muncul di toko buku, suatu hari nanti. Sambil, tentu saja menyempurnakan apa yang ada di buku ini.

Langkah selanjutnya.

Kehadiran buku ini bukanlah akhir dari segalanya. Justru, ini adalah awal dari berbagai perjuangan dan tantangan berikutnya, terutama dalam upaya literasi media, terutama televisi di Indonesia. Buku ini hanyalah bagian kecil diantaranya.

Langkah-langkah yang bisa diambil berikutnya adalah sebarkan konten dari buku ini. Bawa konten-kontennya diselipan obrolan-obrolan sehari-hari. Kalau yang ini sih fix jangan berhenti di kamu. Beda lho sama konten hoax yang justru harus dihentikan penyebarannya.

Selain itu, kamu dan anda bisa juga menyampaikan kritik dan saran yang mungkin bisa saya gunakan dalam penerbitan buku atau jenis konten lainnya (dalam hal soal media massa, terutama televisi) dengan mention Twitter @rinaldoaldo92, Instagram @inikritikgue atau e-mail ke rinhardi.aldo@inikritikgue.my.id.

Ya, siapa tahu buku yang muncul karena ide kamu dan anda justru malah lolos di penerbit "mayor". Aamiin? Ketik Aamiin di pikiran. Hehehe.