Sebuah Pesan dari Saya

Hai pembaca setia IniKritikGue,
Pemikiran untuk sesuatu yang berubah ini sebenarnya muncul secara mendadak. Pada ulang tahun blog saya ketiga bulan Maret lalu, jujur ide ini belum kepikiran.

Namun, sejak lama saya merasa didera kejenuhan yang lumayan sangat dengan format yang saya pegang selama 3 tahun ini. Apalagi, kejenuhan mulai memuncak disaat saya mendapat tawaran untuk mengisi konten di beberapa portal opini, sementara disaat yang lain di negeri ini lagi banyak hal yang enak buat dibahas dan "digoreng".

Hal itu, sayangnya bukan dalam hal media dan penyiaran, yang selama 3 tahun ini saya geluti.

Bukan, bukan saya menyerah pada keadaan yang ada. Meski kadang rasa itu pernah ada, namun saya tentu masih setia dengan isu media dan penyiaran. Saya tak mau meninggalkan kedua hal yang saya harap masih ada dalam catatan masa depan saya (aamiin ya Allah). Namun, saya merasa bahwa isu media penyiaran berhubungan dengan segala isu yang lagi "digoreng" di negeri ini.

Saya menganalogikannya dengan sistem perkabelan yang saat ini banyak diminati oleh masyarakat dan perusahaan : fiber optik. Analoginya ada titik TX dan RX, masing-masing disebut transmitter alias transmisi dan receiver alias penerima. Transmisi disini adalah sumber berita dan penerimanya adalah masyarakat umum. Sementara, media dan penyiaran adalah kabel fiber optiknya. Ada kalanya, kabel ini bisa loss dengan angka bersatuan dB atau dBm alias memiliki redaman tinggi, bahkan bisa cut -40. Nah, hal ini tentu berpengaruh dengan transmisi dan penerimanya. Dampak ini membuat data yang dikirim tak sempurna kecepatannya maupun arah pantulan cahayanya.

Sama seperti media dan penyiaran, yang entah karena faktor internal (rutinitas, budaya, pendidikan) atau eksternal (pengaruh konglomerasi media, stigma dan konstruksi sosial), mempengaruhi kita menerima berita dan informasi yang ada. Kita tak mampu menangkap secara utuh seideal mungkin informasi yang ada. Singkat kata, informasi jadi dangkal, namun budaya komentar, gibah hingga bullying terjadi. Orang-orang berpendapat itu sanksi dan pengendalian sosial, namun mereka suka tak jelas bedanya pengendalian dan bullying itu sendiri. Jadilah main hakim.

Memang, intelektualitas masyarakat mau tak mau mesti ditingkatkan. Budaya dan pendidikan mesti ditingkatkan kearah yang membangun harapan masa depan bangsa, bukan hanya menghasilkan angka-angka tercetak di ijazah atau mencetak lulusan (yang katanya) unggul, seperti "70% mahasiswa sebelum wisuda sudah bekerja", seperti yang saya lihat dalam iklan universitas swasta ternama. Bahkan, kalau mau gila, seperti kata pak Rocky Gerung, salah seorang akademisi terkemuka, "naikkan IQ".

Namun, tentu dari sisi media dan penyiaran semestinya berbenah. Mereka tentu bukan hanya soal mengejar break even point, sales net revenue ataupun semacamnya. Mereka punya tanggung jawab kepada publik untuk memberitakan hal yang benar secara obyektif dan berani "buka-bukaan" meski tahu nantinya ada yang "tersakiti" dan menuding mereka media hoax, media liberal, media anti Islam ataupun media "kiri" sekalipun. Mereka, juga dituntut menyediakan hiburan yang tak sekedar menghibur, namun juga aman dan layak untuk anak-anak serta memberikan inspirasi serta motivasi positif.

Sayang, isu soal media dan penyiaran memang nampaknya masih isu elit dan susah buat "digoreng". Hatersnya pun juga banyak, karena tentu kita tahu belakangan ini makin banyak orang yang silau dengan media dan penyiaran dan ingin menjadi bagian, baik di depan maupun di belakang. Mulai jadi selebritis sensasional sampai jadi floor director hura-hura-hulla-hoop. Mulai dari jadi news anchor sampai jadi fans-fans aktor aktris sinetron. Padahal, kita semua tahu, tak peduli new media ataupun eksisting media, semua mendapatkan informasi dari sana. Mulai dari Pansus KPK, Rohingya, Syahrini, Gojek sampai Rihanna, semua kita tahu dengan mengikuti media massa yang ada.

Begitupun bahan gibahnya ya, bosque.

Keputusan buat "melebarkan sayap" dengan mempertahankan sedikit format yang ada, termasuk dengan tidak menghapus IniKritikGue versi lama (temukan di menu "Penghantar" dan "Nostalgia") dari catatan, sebenarnya tak hanya didasari karena saya kurang leluasa dengan isu media dan penyiaran, namun juga saya merasa pentingnya untuk memperbaiki perspektif dan pandangan orang-orang, yang kadang-kadang bikin saya menyerah dengan situasi yang ada karena meski kini banyak yang sudah menyadari (misalnya) ada yang salah pada media massa, namun mereka masih menempatkannya pada perspektif yang salah kaprah dan perspektif "kelompok" belaka. Mulai dari sensor yang disalahkan ke KPI sampai soal media anti Islam.

Namun, ini juga didasari karena ada hal-hal yang ingin saya ungkapkan di satu tempat yang sama. Suara-suara ini tak hanya dalam tulisan opini, namun juga dalam prosa-prosa. Prosa ini saya masukkan ke akun Instagram saya, sesekali. Responnya memang sedikit, maklum, yang like tentu teman-teman saya. Nah, saya berpikir untuk memindahkannya ke IniKritikGue ini. So, apa salah?

Mengenai apakah saya akan tetap menulis di tempat lain, saya akan tetap mempertahankannya. Sudah beberapa bulan terakhir saya mengisi konten di Selasar, Qureta, Seword (portal paling kontroversial) sampai Medium.com. Saya menjadikan portal-portal ini sebagai variasi, yang linknya nanti bisa diklik sendiri oleh pembaca dan muncul disini.

Namun, saya ingin mencoba boosting blog saya ini, setidaknya agar biaya hostingnya "berbalik" untung buat saya, hahahah. Tidak kok. Saya sudah menganggap blog ini sebagai branding saya, yang Alhamdullilah membuat saya cukup dikenal. Ya, memang baru orang sekitar saya yang kenal, sih. Tapi, tentu ada kebanggaan tersendiri ketika saya menganggap blog ini sebagai branding saya. Apalagi, blog ini hidup bersama naik turunnya hidup saya kini. Dari jaman saya sekolah banyak bolos, masalah keluarga, jatuh cinta sampai kini saya sekarang. Kesan ini makin menambah alasan saya bertahan dengan blog ini, meskipun ini juga alasan yang membuat saya agak berat ketika memutuskan meluncurkan "The All New" ini.

Pada akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa; orang-orang terdekat di hidup saya, dari orang tua, teman-teman di dunia maya dan dunia nyata, guru-guru di sekolah hingga para "guru kehidupan" yang bertebaran disekitar saya, juga para broadcaster yang menginspirasi saya dan saya kagumi. Terakhir, tentu saja kepada pembaca blog IniKritikGue, baik yang setia dari era wordpress.com sampai sekarang ini, dengan segala responnya, baik itu yang positif maupun negatif.

Saya juga sampaikan permohonan maaf jika ada hal-hal yang keliru dan tak patut saya sampaikan dalam 3 tahunan ini. Insya Allah, saya akan belajar dari hal-hal ini.

Saya persembahkan IniKritikGue yang baru, untuk pembaca semua.

Kritik dan saran, saya selalu nantikan di jalur komunikasi yang bisa anda dan kamu akses disini. Pokoknya saya buka selapang-lapangnya.

Terima kasih dan terima kasih, sekali lagi.

Salam hangat dari saya,

Rinhardi Aldo

Overview IniKritikGue, Ntap!

Sebenarnya sih, rencana awal proyek "the all new" ini menjadikan semua konten dalam satu wajah. Blog IniKritikGue yang ada, akan jadi "korban". Namun, saya berpikir hal ini tidak memungkinkan pembaca untuk memilih konten yang ia butuh dan ia tidak butuh. Lagipula, blog IniKritikGue yang lama sendiri sebenarnya sudah memiliki pangsanya sendiri dan tak mungkin secara tiba-tiba berubah. Tentu saya yang akan jadi obyek protesnya.

Maka, dengan adanya pemecahan seperti sekarang, tentu akan memberikan keleluasaan yang besar kepada pembaca. Hal yang sangat menguntungkan, namun bikin saya gelut-gelutan dengan waktu dan kesibukan, hahah.

IniKritikGue Ntap New Roadmap
IniKritikGue Ntap New Roadmap, klik gambar untuk versi besarnya.

Sebagai perkenalan, saya jelaskan sedikit soal proyek ini alias "IniKritikGue, Ntap!".

Ke.la.na

Segmen yang ini sebenarnya adalah segmen yang belakangan menjadi bahan tulisan saya di portal eksternal, seperti Seword dan Qureta. Saya akan membahas berbagai hal-hal current issue dan hal-hal menarik lainnya (masuk ke ranah feature) dalam perspektif saya.

Trans.mi.si

Tanpa banyak diketahui pembaca, saya sebenarnya sudah menyisipkan konten yang berkaitan dengan perusahaan tempat saya kerja kini. Namun, saya menyadari bahwa literasi internet tak hanya dibutuhkan oleh customer perusahaan saya, namun juga buat semua pengguna internet negeri ini, sehingga saya membuat segmen ini.

Nos.tal.gia

Hey! It's (not) wrap! IniKritikGue terdahulu di wordpress.com, yang sebelumnya pernah saya tutup aksesnya, kini bisa kembali kamu dan anda akses. Namun, perlu harus diingatkan kalau saya tak akan posting kembali disini, yaps.

Air.dan.Api

Sebelumnya, saya menulis semacan prosa bebas itu di caption Instagram. Tentu hal yang sudah kebanyakan dilakukan oleh pengguna Instagram. Namun, saya mencoba mengkurasi prosa-prosa dan mungkin nantinya karya sastra lainnya didalam segmen ini.

Peng.han.tar

Yaps, ini IniKritikGue yang pertama kamu kenali. Masih soal media dan penyiaran yang tak akan habis dikupas dan "digoreng" dengan cara saya. Saya tetap pertahankan ini sebagai upaya literasi media, terutama buat saya sendiri, sih. Heheh.

Ini masih belum ditambah dengan beberapa inovasi lainnya yang coba saya buat di IniKritikGue lainnya, seperti kesempatan menulis dalam Opini Gue dengan honorarium menarik untuk 2 pengirim tulisan dan hmm.. Untold Story of IniKritikGue akan publish secara online. Nantikan terus banyak hal dan kejutan yang baru lainnya dari IniKritikGue.